Artikel kali ini akan membahas mengenai minyak bulus yang ternyata telah menjadi warisan sejak zaman dahulu dari nenek moyang bangsa Indonesia. Jangan sekali-kali melupakan sejarah merupakan slogan yang tak asing lagi dari presiden pertama Indonesia. Indonesia memiliki sejarah yang hingga kini dikenang oleh masyarakat. Sejarah merupakan penentu keadaan saat ini. Begitu pula dengan minyak dari bulus, cairan herbal yang satu ini memiliki sejarah dari nenek moyang sehingga masih mampu bertahan hingga saat ini. Minyak ini masih mampu bertahan hingga sekarang karena manfaat dari minyak tersebut dipercaya dapat menyelesaikan beberapa masalah kesehatan dan menjadi perawatan tubuh. Leluhur kita ternyata telah memiliki keterampilan dalam pengolahan hewan bulus menjadi minyak dari bulus ini. Lalu bagaimana sejarah hingga terbentuknya minyak dari bulus yang mengandung manfaat bagi kesehatan dan perawatan tubuh wanita maupun pria.

Mari Mengenal Minyak Bulus Pada Zaman Dahulu

Pada zaman dahulu, bulus merupakan hewan yang memiliki kekerabatan dekat dengan kura-kura dan penyu ini dapat dijumpai pada hutan-hutan. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan tropis dalam jumlah banyak. Bahkan menjadi salah satu paru-paru di dunia yang menyumbang kebutuhan oksigen di dunia dan menyerap karbon dioksida di udara dengan baik. Beberapa suku di Indonesia pun tinggal di pedalaman hutan sehingga memahami kontur hutan dengan baik. Saat itu bulus masih mudah ditemui dan kemudian dimanfaatkan lemaknya untuk dijadikan ekstrak minyak bulus dengan melalui proses penjemuran di bawah terik matahari secara langsung. Proses pengolahan ini yang kemudian disebut dengan minyak dari bulus kualitas asli.

Mengapa Proses Pengolahan Minyak Bulus pada Zaman Dahulu Memanfaatkan Matahari?

Matahari merupakan salah satu pusat dari tata surya, semua planet yang tergabung dalam galaksi bima sakti akan beredar mengelilingi matahari. Oleh karena itu, di bumi ada fenomena malam dan siang yang dipengaruhi oleh perputaran bumi saat mengelilingi matahari dan sekaligus berputar pada porosnya. Nenek moyang memanfaatkan matahari untuk memperoleh ekstrak dari lemak bulus hingga menjadi minyak bulus. Hal ini menjadi salah satu cara dalam menyiasati teknologi kompor yang kemudian ditemukan pada saat ini.

Related posts: