Nusantara ini pada awalnya tidak berbentuk seperti sekarang. Dahulu ada banyak pemerintahan yang dijalankan oleh setiap daerah. Ada cukup banyak kerajaan yang berdiri dengan segenap rakyat dan wilayah yang dimilikinya. Model pemerintahan yang dilakukan oleh setiap raja pun berbeda-beda. Setiap kerajaan mengalami masa kejayaan dan keruntuhannya masing-masing. Kerajaan yang memiliki sejarah cukup menarik karena telah mengalami masa keruntuhan dan kejayaan berulang kali adalah kerajaan Sunda. Sejarah kerajaan Sunda menjelaskan berbagai hal yang menarik perhatian masyarakat sekarang.

Kerajaan Sunda dan Prasastinya

Pasa dasarnya, rujukan pertama nama Sunda yakni merupakan sebuah nama kerajaan yang tercatat pada Prasasti Kebun Kopi II di tahun 536 Masehi. Prasasti ini ditulis dengan tulisan Kawi, sementara bahasanya adalah Melayu Kuno. Dalam prasasti ini dijelaskan bahwasanya Rakryan Juru Pangambat di tahun 458 Saka, mengatakan bahwa tatanan kekuasaan pemerintahan akan kembali pada tangan Raja Sunda.

Ada beberapa pendapat yang menyatakan tentang tahun prasasti tersebut. Sebagian besar orang menganggap bahwa tahun di prasasti itu haruslah dibaca 854 Saka atau 932 Masehi. Karena pada dasarnya, adalah suatu ketidakmungkinan apabila kerajaan Sunda ini sudah ada saat 536 AD, yakni di masa Kerajaan Tarumanegara, mulai 358-669 AD. Namun ada sejarah kerajaan Sunda lainnya yang ada pada Prasasti Sanghyang Thapak yang ditulis di 4 batu. Prasasti ini ada 40 baris dan ditulis dengan menggunakan bahasa Kawi.

Prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Sunda ini diamankan di Museum Nasional Jakarta dengan kode berbeda. Isi dari prasasti tersebut kurang lebih adalah menceritakan tentang kesejahteraan dan perdamaian. Saat tahun 952 Saka atau 1030 Masehi, tepatnya di hari ke 12 bulan Kartika, Hariang Kliwon pertama, di wuku Tambir. Saat itu adalah hari dimana Raja Jayabupati membuat sebuah tanda di sebelah timur dari Sanghyang Thapak. Tanda ini benar-benar dibuat oleh raja Sri Jayabhupati.

Seorang pun tidak boleh melanggar peraturan yang telah dibuat oleh raja. Setiap orang tidak diperbolehkan untuk melakukan penangkapan ikan di sungai. Karena sungai ini merupakan daerah suci dari Sang Hyang Tapak. Perbatasan daerah suci ini ditandai dengan adanya dua pohon yang berukuran besar. Peraturan ini ditegakkan menggunakan sumpah. Dan tidak boleh ada seorang pun yang bisa melanggar aturan yang ditegakkan. Jika melanggar, maka akan diberi hukuman oleh makhluk gaib, yakni mati dengan mengenaskan. Sejarah kerajaan Sunda ini penuh dengan keunikan. Di Kingsunda.com bisa mengetahui berbagai informasi seputar budaya sunda.

Related posts: