Divestasi merupakan kebalikan dari investasi. Jika investasi dilakukan untuk menambah aset dengan cara membeli saham maupun aset atau menambah bisnis atau anak perusahaan. Maka, divestasi merupakan usaha untuk mengurangi aset dan saham dengan cara menjual aset, anak perusahaan ataupun saham. Divestasi Freeport yang dilakukan dengan Indonesia adalah penjualan saham 100% atas PT Indocopper Investama yang memiliki saham sebesar 9,36% di PTFI. Hal ini menjadikan pemerintah menggenggam saham PTFI sebesar 51%.

Uang, Alasan Utama Divestasi

Ada beberapa alasan mengapa perusahaan melakukan divestasi.  Divestasi Freeport sendiri dilakukan karena terdapat ketentuan perundang-undangan yang mengatur perusahaan modal asing. Peraturan Presiden Nomor 1 yang mengatur jika perusahaan modal asing wajib memindahkan saham sebesar 51% pada pemerintah.

Namun, ada alasan lain yang juga menjadi pilihan ketika melakukan divestasi:

  • Mencari modal

Dengan menjual anak perusahaan atau saham, artinya sebuah perusahaan akan mendapat sejumlah dana dari penjualan tersebut. Hal tersebut bisa menjadi tambahan modal untuk bisnis utama tanpa harus meminjam.

  • Melunasi hutang

Selain mencari modal, menjual saham juga bisa menjadi solusi menutupi hutang. Bahkan banyak perusahaan yang melakukan cara ini untuk melunasi hutang-hutang mereka dengan menjual saham ataupun anak perusahaan.

  • Lebih fokus bisnis utama

Selain hutan dan modal, ada kalanya perusahaan menggunakan cara divestasi untuk memfokuskan pada bisnis utama. Dengan adanya anak perusahaan, akan lebih sulit untuk memusatkan perhatian pada bisnis utama, sebab perhatian akan terpecah dengan anak perusahaan.

Selain ketiga hal di atas, bisa jadi perusahaan melakukan divestasi dikarenakan performa anak perusahaan atau unit yang tidak sesuai harapannya. Namun, apa pun hal yang menjadi alasan divestasi, perusahaan yang melakukan hal ini justru akan memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan saat sebelum melakukan divestasi.

Divestasi Freeport sendiri  memberikan keuntungan pada pihak Indonesia, pasalnya kepemilikan bisa mencapai 51%. Selain itu, kedua belah pihak pun antusias menyambut divestasi hal tersebut. Dengan adanya hal ini diharapkan keuntungan yang di dapat mampu mempengaruhi pendapatan negara di kemudian waktu.

Related posts: